Sabtu, 25 Mei 2013

PENGENALAN BUDAYA LOKAL SARANA DAN UPAYA MENUJU KOMUNITAS ASEAN 2015


                                                           

                  Asean sebagai bagian dari bagian dunia telah memasuki babak baru.   Tak mau ketinggalan dalam era globalisasi, ASEAN harus mengejar ketertinggalan dalam kerja –sama agar tak terlindas oleh negara-negara besar di Asia seperti Cina dan India.   

                Pembentukan Komunitas ASEAN harus dipercepat.   Rencana semula digulirkan pada tahun 2020  , dirubah menjadi tahun 2015.   Hal ini telah disepakati  oleh para Kepala Negara ASEAN pada KTT ke 12 ASEAN Komunitas ASEAN 2015.    Dalam  kesepakatan itu terdiri atas tiga pilar yaitu: Komunitas Keamanan ASEAN, Komunitas Ekonomi ASEAN dan Komunitas Sosial Budaya Asean.

                Titik berat Komunitas Sosial Budaya ASEAN  adalah untuk meningkatkan kerja sama yang sangat kuat  dalam bidang BUDAYA sehingga tercipta “a caring and shring commpunity” dalam masyarakat  ASEAN.    Kerja sama ini tercakup dalam bidang  pemuda, wanita, kepegawaian, penerangan, kebudayaan dan pendidikan, ilmu pengetahuan dan teknologi, lingkungan hidup, pembangunan sosial, pengentasan kemiskinan serta Yasasan ASEAN.

                Kerja sama dalam bidang Budaya ASEAN, membuat  pemerintah Indonesia sebagai salah satu negara peserta mengajak para  ASEAN Blogger menggali  kekayaan warisan budaya dari masing-masing.
 negara peserta.    Peserta ASEAN Blogger telah dibawa pengenalan yang mendalam mengenai budaya  lokal Solo ketika diadakan ASEAN Blogger di Solo pada tanggal 10-12 Mei 2013.

                Usaha pengenalan warisan budaya Jawa, utamanya sekitar Solo dimulai dari tempat bersejarah Mangkunegaraan, Candi Sangiran dan Candi Sukuh.    Tujuan utama pengenalan ini bukan hanya sekedar mengenal  budaya lokal di permukaan saja.   Jika hal ini terjadi, maka pengenalan itu akan menjadi suatu mubazir atau sekedar laporan yang tak ada artinya.   Namun, pengenalan itu perlu dijiwai dengan rasa  penghormatan,   usaha untuk pelestariannya.   Penghormatan budaya  adalah dengan adanya  mencintai apa yang diwariskan oleh budaya itu sendiri.   Bagi generasi yang tak melahirkan budaya mungkin tak mudah mencintainya.  Mereka tak mengetahui latar belakang terjadinya budaya lokal.   Istana Mangkunegaraan berasal dari kata Mangkunegaraan. Merupakan dinasti yang berkuasa pada zaman Mataram.   Cikal bakal dari Pangeran Adipati Arya  Mangkunegara.  Istana ini simbol dari pemerintahan dan politik  dan hasil perjuangan dalam kemiliteran dalam menghadapi pasukan  Belanda, Pakubuwana III dan Pangeran Mangkubumi.    Bentuk dari arsitektur Istana Mangkunegaraaan juga menjadi simbolik dari  khas bangunan dengan elemen dari Eropa  dan serambi dari Jawa. Perpaduan yang sangat unik.  Elemen Eropa secara visual dan fungsional diperpadukan dengan tata ruang dan aktivitas dari raja yang sangat  penuh dengan kejawaan. 
 
                Mengenal budaya lokal seperti Jawa bukan hanya dari bangunan, istana,  atau candi, tetapi terdapat  dalam bentuk yang lain seperti  tarian, lagu, nyanyian benda-benda  : keris, kendil.   Penciptaan budaya lokal itu sangat sarat dengan filosofi, falsafah, cara pandang dan kepercayaan dari masyarakat setempat.   Dari satu benda kita bisa mengenal bagaimana masyarakat memandang benda itu sebagai benda pusaka yang harus dipelihara, dilestarikan dan tetap menjadi warisan sampai kapan pun.

                Diharapkan bahwa pengenalan ini akan melahirkan suatu ketertarikan akan seni budaya.   Setelah timbul ketertarikan tentu  diharapkan mereka yang tertarik akan memperdalam wawasan , mencari pengetahuan dan lebih lagi, menghargai  serta melestarikan.  Terus terang banyak generasi muda dari kaum ASEAN  yang gemar mengenal  budaya dalam perspektif yang lebih modern.  Mereka tak menyukai hal yang berbau  kuno, benda-benda mati , sejarah  yang lapuk tak sesuai dengan peradaban zaman.  Bagi generasi akan datang, ini merupakan hal yang tabu diketahui dan mereka hampir tak mengerti apa manfaatnya mempelajari budaya .

                Menuju Komunitas ASEAN 2015,  kendala semacam ini telah diketahui oleh para pemangku pemerintahan.   Oleh karena  itu kerja sama yang diharapkan bisa efektif  jika  para generasi muda terutama para blogger memperkenalkan  kekayaan seni budaya  sebagai warisan budaya yang harus dihargai dan dilestarikan oleh  masyarakat ASEAN sendiri.   Penghargaan dan pelestarian dimulai dari masing-masing negara dan kemudian diadakan kerja-sama untuk saling membantu dalam penghargaan dan pelestariannya.

                Penghargaan dan pelestarian dari masyarakat  ASEAN dalam warisan budaya sangat penting karena jika tidak masing-masing negara sering mengklaim  kebudayaan negara satu menjadi kebudayaan miliknya.    Penghargaan akan nilai seni budaya suatu bangsa juga sangat penting.  Penting karena  hal itu merupakan identitas dari bangsa itu sendiri.  Jangan sampai terjadi identitas itu hilang karena budaya bangsa itu hilang atau punah karena tidak adanya kelestarian dari bangsa itu sendiri.

       Selain itu jika terjadi kerusakan cagar alam budaya suatu negara dan negara itu tak mampu mengadakan pemeliharaan maka negara yang terkait dalam ASEAN yang mampu dapat memberikan bantuan dana atau pengetahuan dalam konservasi budaya.

                Menuju KOMUNITAS ASEAN 2015 bukanlah hal yang mustahil jika semua rakyat dan pemerintah ASEAN dapat mempersiapkan diri , berkontribusi , mengimplementasikan dan mensukseskannya.

                Inilah spirit , jiwa dan gagasan yang harus terus dikobarkan supaya  gagasan Menuju KOMUNITAS ASEAN 2015  dalam BUDAYA bukanlah suatu slogan saja. Terlebih telah ada persiapan yang matang dalam pre- launch dengan adanya ASEAN BLOGGER FESTIVAL 2013 pada tanggal 10-12 Mei 2013 di Solo disponsori oleh salah satu sponsor  oleh  PT. Telkom Indonesia.  


Sumber-sumber:   Wikipedia
                            Asean Blogger , www.aseanblogger.com
                             Kekayaan Budaya Indonesia